Tulisan Indah dan Seni Kaligrafi Buat Pembelajaran Siswa

Sistem penulisan indah atau Kaligrafi adsalah salah satu buku dari seri pembelajaran pendidikan kesenian yang diterbitkan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN). Buku ini diajukan untuk siswa-siswa mulai kelas dasar agar bisa mengajak para siswa memahami tentang sejarah tulisan dari berbagai bangsa di dunia ini dan mengapresiasi kata yang dibuat menjadi karya seni kaligrafi.

Buku ini dibagi ke dalam dua sistem bagian: sistem pertama, mengenai Sistem Tulisan dan sistem kedua, mengenai sistem Kaligrafi. Sistem tulisan dibahas diawali dari sistem tulisan paling tua hingga pada perubahan-perubahan model lambang sistem penulisan. dari berbagai kebudayaan seni tulis di dunia. Pembahasan tentang sistem kaligrafi diutamakan untuk fokus pada tiga tradisi sistem tulis di dunia yang mengembangkan kaligrafi secara luas yaitu kaligrafi Islam, kaligrafi Tionghoa diantaranya Korea, Jepang, dan Vietnam, dan kaligrafi Latin.

Kaligrafi Al Ikhlas

Kaligrafi Al Ikhlas

Buku ini juga mengungkap beberapa sistem seni tulis yang ada di Nusantara seperti tulisan Pallawa, Kawi, tulisan Batak hingga tulisan lontaraq yang berlaku di Sulawesi Selatan hingga ke wilayah Flores. Tak terlupakan pula ada kaligrafi baru yang dikenalkan dari orang Indonesia ini sendiri, terutama yang berkenaan dengan pertumbuhan kaligrafi Arab di dalam karya seni bernilai.

Pembahasan Kaligrafi yang di dalam buku ini bertujuan agar memberikan imajinasi sebuah kegiatan kesenian yang telah dilakukan selama berpuluh-puluh tahun di berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara. Dengan maksud ini, harapannya siswa siswi bisa mampu melihat keberagaman karakter, ekspresi kaligrafi yang pada selanjutnya dapat memahami pula keragaman budaya.

Memang tidak semudah untuk bagi siapa saja untuk dapat mengembangkjan keahlian membaca tulisan bahasa yang sangat beragam, apalagi bila tulisan-tulisan itu digarap dalam bentuk kaligrafi yang tidak lagi menekankan pada cara membacanya, melainkan pada ekspresi estetik dan makna simboliknya yang ada didalam kaligrafi tersebut. Pesannya hanya satu: janganlah takut memajukan daya mengapresiasi keragaman kaligrafi walau kita belum bisa cara membaca aksaranya.” Sebab pintu ke arah menuju kenikmatan keindahan kaligrafi dapat ditempuh dengan rasa seni, sehingga walau tak bisa membacanya kita masih bisa menikmati dari wujud seninya. Tak tertutup kemungkinan bahwa siswa terbangkitkan pula kepenasaran dan keingintahuannya sehingga berupaya mempelajari dan memahami untuk lebih bisa menjelajahi seni kaligrafi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *